Jika ada dua game yang pantas disebut sebagai “bapak” dari genre first-person shooter, DOOM dan DOOM II jelas masuk daftar paling atas. Dua judul klasik ini bukan hanya merintis generasi game FPS modern, tetapi juga mengubah cara pemain melihat aksi tembak-menembak, desain level, hingga atmosfer game horor sci-fi. Tak heran kalau komunitas gamer—termasuk para pemain yang tergabung dalam Paman Empire—masih sering merekomendasikan kedua game ini meski sudah puluhan tahun sejak perilisannya.
Awal Mula Aksi Brutal yang Ikonik
DOOM pertama kali dirilis pada tahun 1993 oleh id Software, diikuti DOOM II pada 1994. Ceritanya sederhana, tetapi justru di situlah letak kekuatannya: kamu berperan sebagai seorang Space Marine yang terjebak di fasilitas Mars dipenuhi iblis dari neraka. Misinya jelas—habisi semuanya dan bertahan hidup.
Gameplay cepat, musik metal yang intens, dan monster-monster ikonik seperti Imp, Cacodemon, hingga Cyberdemon membuat game ini terasa jauh lebih maju dibandingkan game lain di masanya. Banyak pemain dari Paman Empire bahkan menyebut DOOM sebagai game yang “tidak punya umur”—karena seberapa pun lamanya, tetap seru dimainkan.
Baca Juga:
Desain Level yang Jenius dan Tidak Pernah Membosankan
Salah satu kekuatan terbesar DOOM dan DOOM II adalah desain level yang kreatif. Setiap ruangan, lorong, dan area dirancang untuk memancing pemain terus maju sambil menghadapi serangan musuh dari segala arah. Game ini bukan hanya soal menembak, tetapi juga membaca situasi, mencari jalur, memecahkan teka-teki kecil, dan bergerak dengan cepat.
Beberapa elemen yang membuat gameplay DOOM + DOOM II terasa abadi:
-
Arena pertempuran yang padat dan menegangkan
-
Rahasia (secret rooms) yang bikin pemain penasaran
-
Variasi senjata ikonik, seperti Shotgun, Plasma Gun, dan BFG 9000
-
Monster beragam dengan pola serangan berbeda
-
Level yang bisa dieksplorasi bebas tanpa tutorial berlebihan
Desain seperti ini bahkan masih jadi acuan bagi banyak developer modern saat merancang game FPS.
Atmosfer yang Membuat Adrenalin Meledak
Meski secara teknologi jauh lebih sederhana dari game masa kini, atmosfer DOOM tetap terasa kuat. Kombinasi musik metal, warna-soaked corridors, dan pacing super cepat menciptakan sensasi “survival adrenaline” yang jarang ditemukan dalam game modern.
Tak heran jika streamer retro maupun komunitas gaming seperti di jaringan Paman Empire sering memutar ulang game ini untuk nostalgia sekaligus tantangan baru.
Kesimpulan
DOOM dan DOOM II bukan sekadar game klasik—mereka adalah ikon yang membentuk dunia FPS menjadi seperti sekarang. Aksi cepat, desain level brilian, dan atmosfer yang tiada tanding menjadikan dua game ini tetap relevan hingga hari ini.

